Kajian-kajian Lalu Berkenaan Naskhah-naskhah

In document KAJIAN TENTANG DINAMIKANYA BERDASARKAN NASKHAH-NASKHAH KARYA ULAMA TEMPATAN (halaman 48-54)

BAB I PENGENALAN

1.4 Sorotan Literatur

1.4.2 Kajian-kajian Lalu Berkenaan Naskhah-naskhah

Nusantara mahupun Timur Tengah, telah membawa dan memperibumikan keislaman untuk keperluan tempatan. Salah satunya wujud dalam berbagai-bagai dinamika MN yang ada di wilayah tersebut.

Tesis peringkat doktor yang lain, iaitu tesis dengan bertajuk “Tarekat Syattariyah di Dunia Melayu-Indonesia: Kajian Atas Dinamika dan Perkembangannya Melalui Naskhah-Naskhah di Sumatera Barat”, yang ditulis oleh Oman Fathurahman (2003) pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Di dalamnya bersisi kajian yang berfokus pada telaah teks dan konteks naskhah-naskhah tentang Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Melalui pendekatan filologi dan sejarah sosial intelektual, diungkap dinamika dan perkembangan Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Naskhah-naskhah yang dijadikan sebagai sumber primer kajiannya tersebut berjumlah sepuluh buah naskhah. Dari sepuluh buah naskhah yang dijadikan sumber kajian, tidak ada naskhah syair polemik karya ulama tarekat Syattariyah di Minangkabau.

Tulisan-tulisan lain yang menggunakan naskhah sebagai sumber kajian untuk menjelaskan dinamika polemik keislaman tempatan, seperti Pramono dan Bahren (2009), Pramono (2009a, 2009b, 2008a, 2008b dan 2007). Berikut akan dihuraikan tentang fokus kajian tulisan-tulisan tersebut.

Artikel yang ditulis oleh Pramono dan Bahren (2009) yang bertajuk

“Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskhah-naskhah Tarekat Syattariyah di Minangkabau” menjelaskan posisi ulama dalam kalangan penganut Tarekat Syattariyah. Dengan menggunakan naskhah-naskhah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib, dijelaskan tentang mulianya guru dan guru harus dihormati. Persoalan hubungan guru-murid yang mendekati pada sikap taklid ini merupakan salah satu persoalan yang ditentang oleh ulama dalam kalangan Kaum Muda. Dalam hal ini, apa yang ditulis seorang syeikh atau guru akan dijadikan pedoman

dan kebenarannya tidak pernah diragukan. Artikel ini diterbitkan dalam Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 7 No. 1, halaman 91-108.

Artikel yang lain bertajuk ”Surau dan Tradisi Pernaskhahan Islam di Minangkabau: Studi Atas Dinamika Pernaskhahan di Surau-surau di Padang dan Padang Pariaman”. Artikel yang ditulis oleh Pramono (2009a) diterbitkan dalam Jurnal Studi Islamika HUNAFA Vol. 6 No. 3, halaman 265-290. Dalam artikel ini dihuraikan dinamika penyalinan naskhah di surau-surau, khususnya surau Tarekat Syattariyah, yang berada di Padang dan Padang Pariaman. Melalui kajian ini diperoleh beberapa informasi berkenaan karya ulama tempatan berkenaan MN, terutamanya di kalangan ulama penganut tarekat Syattariyah di Padang dan Pariaman.

Pramono (2009b) dalam artikelnya yang bertajuk “Tradisi Intelektual Keislaman Minangkabau: Kajian Teks dan Konteks Naskhah-naskhah Karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib” diterbitkan dalam Jurnal TABUAH Ta’limat Budaya, Agama dan Humaniora Vol. XIV No. 1 Hlm. 1-24. Dari artikel ini diketahui bahawa salah satu karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib berkenaan MN masih dibacakan pada saat perayaan MN dalam kalangan penganut Tarekat Syattariyah di Padang.

Tulisan yang lain, Pramono (2008a) yang bertajuk “Puasa Melihat Bulan versus Puasa Melihat Dinding: Telaah Teks dan Konteks Naskhah Kitab Al-Takwim Walsiyam” juga menjelaskan polemik keislaman tempatan, khususnya tentang polemik penentuan awal Ramadhan. Artikel yang lain yang bertajuk “Menulis Untuk Mendebat:

Telaah Teks dan Konteks Naskhah Risalah Mizan al-Qalb untuk Bahan Pertimbangan bagi Kaum Muslimin Buat Beramal Ibadah Kepada Allah Karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib”, juga ditulis oleh Pramono (2008b). Artikel yang diterbitkan

dalam Wacana Jurnal Penelitian Bahasa, Sastera, dan Pengajarannya ini menjelaskan tentang beberapa tema polemik keislaman tempatan Naskhah Risalah Mizan al-Qalb.

Kajian tesis peringkat master yang bertajuk “Teks dan Konteks Naskhah-naskhah Karya Imam Maulana Abdul Manaf: Praktik Ideologi Penganut Tarekat Syattariyah di Padang” juga menjelaskan polemik Islam tempatan di Sumatera Barat.

Disertasi ini ditulis oleh Pramono (2007) pada Program Studi Kajian Budaya, Program Pascasarjana, Universitas Udayana. Disertasi ini memfokuskan kajian pada upaya permaknaan terhadap naskhah-naskhah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Naskhah yang menjadi sumber primer penelitian ini berjumlah tujuh naskhah karyanya. Dalam tesis ini dihuraikan (1) deskripsi isi naskhah-naskhah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib; (2) faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya pandangan ideologis Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib dalam naskhah-naskhah karyanya; dan (3) pemaknaan naskhah-naskhah Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib sebagai praktik ideologi Tarekat Syattariyah di Koto Tangah, Padang.

Bentuk “skripsi” (latihan ilmiah) Yerri Satria Putra (2004) yang bertajuk

“Transliterasi dan Analisis Teks Sejarah Ringkas Syaikh Paseban Assyattari Rahimahullah Ta’ala Anhu”, Skripsi, Fakultas Sastra Universitas Andalas. Yerri Satria Putera melakukan transliterasi terhadap naskhah “Sejarah Ringkas Syeikh Paseban Assyattari Rahimahullah Ta’ala Anhu” karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib. Selain itu, ia juga menganalisis teksnya, terutama yang berkaitan dengan pemikiran dan ajaran agama Islam yang menjadi faham Syaikh Paseban. Di dalam teks tersebut juga disebutkan polemik MN antara Kaum Muda dengan Kaum Tua di

Minangkabau. Sehingga kini, Surau Paseban masih digunakan sebagai pusat perayaan MN bagi penganut Tarekat Syattariyah di Koto Tangah, Padang.

Tulisan dalam bentuk latihan ilmiah yang lain, seperti yang ditulis oleh Zulfadhli (2005) bertajuk “Transliterasi dan Analisis Teks Kitab Ziarah pada Makam Syekh Abdurrauf Sinkili Karangan Imam Maulana Abdul Manaf”. Tulisan ini berisi transliterasi dan analisis isi dari naskhah “Kitab Ziarah Pada Makam Syekh Abdurrauf Sinkili Karangan Imam Maulana Abdul Manaf”. Tulisan ini telah menghadirkan suntingan teks terhadap naskhah dengan tajuk tersebut. Melalui transliterasi teks itu, pengkaji dimudahkan untuk melihat salah satu aspek dinamika keislaman dalam kalangan penganut Tarekat Syattariyah yang cukup penting selain MN, iaitu tradisi ziarah kubur.

Isma Darma Yanti (2007) menyusun latihan ilmiah yang bertajuk “Transliterasi dan Analisis Teks Kitab Pertahanan Tarekat Naqsyabandiyah”, pada Fakultas Sastra Universitas Andalas. Tulisan ini menggunakan “Kitab Pertahanan Tarekat Naqsyabandiyah” yang ditulis oleh Haji Djalaludin sebagai bahan kajiannya. Selain membuat transliterasi naskhah tersebut, pengkajinya juga menganalisis isi kandungan naskhah. Melalui transliterasi ini juga boleh memudahkan untuk melihat dinamika polemik keislaman di Minangkabau, terutamanya berkenaan dengan Tarekat Naqsabandiyah.

Menerusi sejumlah sorotan bacaan terhadap berbagai-bagai bentuk kajian naskhah karya kalangan ulama Minangkabau, utamanya yang berbentuk syair, setakat ini masih jarang ditemukan. Setidaknya, ada tiga kajian yang pernah dilakukan dengan objek syair karya ulama Minangkabau, iaitu kajian yang dilakukan oleh Yulizal Yunus

(1999), Suryadi (2004) dan Sofyan Hadi (2011). Ketiga kajian ini selain menyajikan suntingan teks dari syair yang dikaji, juga melakukan analisis konteks. Akan tetapi, persoalan polemik dan wacana dinamika tidak mendapat perhatian yang luas.

Dalam bukunya yang bertajuk Sastra Islam : Kajian Syair Apologetik Pembela Tarekat Naqsyabandiyah Syeikh Bayang, Yulizal Yunus (1999) menganalisis isi syair

“Nazam Dar al-Mawa’izah” karya Syeikh Bayang. Dalam buku tersebut, dihadirkan suntingan teks syair “Nazam Dar al-Mawa’izah” yang disertai analisis isi terhadap syair tersebut. Suntingan teks dibuat tanpa diikuti dengan pertimbangan atau pertanggunganjawaban, sehingga pembaca lain kesulitan untuk membayangkan teks aslinya. Dalam kajiannya tersebut, Yulizal Yunus secara panjang lebar menghuraikan sejarah penulis syair dan sedikit menjelaskan teks syairnya. Aspek di luar syair, khususnya terkait dengan polemik keislaman tempatan, sangat sedikit dibicarakan.

Kajian lain seperti yang dibuat oleh Suryadi (2004) yang diterbitkan dengan tajuk Syair Sunur: Teks dan Konteks Otobiografi Seorang Ulama Minangkabau Abad Ke-19. Dalam bukunya ini, Suryadi menyajikan transliterasi Syair Sunur yang dikarang oleh Syeikh Daud, seorang ulama Minangkabau. Secara kontekstual, Suryadi menghuraikan bahawa Syair Sunur merupakan refleksi kekecewaan terhadap praktik keagamaan di Ulakan Pariaman.

Sofyan Hadi (2011), dalam tesis masternya yang berjudul “Naskhah al-Manhal al-‘Adhb li-Dhikr al-Qalb: Kajian atas Dinamika Perkembangan Ajaran Tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah di Minangkabau” menyajikan suntingan teks dan sedikit analisis konteks terhadap naskhah al-Manhal al-‘adhb li-dhikr al-qalb. Syair dalam bahasa Arab ini merupakan karangan seorang ulama Minangkabau. Isinya selain tentang

ajaran Tarekat Naqsabandiyah juga tentang polemik keislaman tempatan. Akan tetapi, persoalan polemik keislaman yang terkandung dalam syair tersebut tidak menjadi fokus kajiannya.

Dari huraian di atas, tampak bahawa kajian terhadap naskhah-naskhah karya ulama Minangkabau –lebih-lebih yang berkenaan MN, sama ada dalam bentuk prosa mahupun syair—masih sedikit dilakukan. Sebagaimana disebutkan pada bagian latar belakang, bahawa salah satu tujuan dari kajian ini adalah untuk mengisi kekurangan dan kekosongan kajian tersebut. Kajian-kajian di atas sangat bermanfaat, terutama untuk melihat secara awal berbagai-bagai hal yang terkait dengan polemik keislaman tempatan di Minangkabau. Oleh sebab, wacana MN di Minangkabau merupakan bahagian dari polemik keislaman secara am.

In document KAJIAN TENTANG DINAMIKANYA BERDASARKAN NASKHAH-NASKHAH KARYA ULAMA TEMPATAN (halaman 48-54)